Analisa Pengelolaan Pendidikan Karakter di Kabupaten Malang

A. Latar Belakang

Sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (Perpres PPK) yang mengatur tentang: (1) maksud dan tujuan, ruang lingkup, serta prinsip PPK; (2) penyelenggaraan PPK secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler; (3) siapa pelaksana dan penanggung jawab PPK; dan (4) sumber pendanaan PPK. Maka memungkinkan untuk mempersiapkan bagaimana pengelolaan PPK tersebut di setiap daerah yang tentunya memiliki kekhasan masing-masing. Sebagai salah satu kabupaten terbesar dan terbaik dalam penyelenggaraan pendidikan, maka Kabupaten Malang setidaknya memiliki pengalaman tersendiri dalam mengelola Pendidikan Karakter yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU No 20 tahun 2003 yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan mnejadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Jenis pendidikan terdiri dari tiga yaitu Pendidikan Formal, Non Formal dan Infomal. Ketiga model pendidikan ini sangat berperan dalam membentuk karakter anak. PK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari GNRM. Pengaturan tentang PPK diperlukan dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan dan penerapan nilai-nilai Pancasila terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab
Karenanya diperlukan analisis yang komprehensif untuk menghasilkan suatu peraturan yang bijaksana. Salah satunya adalah analisis dari aspek manajemen mutu serta keterkaitannya dengan peraturan daerah, karenanya pembahasan ini diharapkan akan menghasilkan beberapa rekomendasi penting dalam penguatan pendidikan karakter di Kab Malang.

B. Tujuan

Adapun tujuan pembahasan ini adalah melakukan kajian dan analisis pengelolaan (manajemen mutu) tentang realitas pendidikan formal dan non formal yang ada di Kabupaten Malang.

C. Manfaat

Setelah melakukan kajian dan analisis tersebut diharapkan akan menghasilkan rekomendasi yang logis dan strategik dalam penguatan pendidikan karakter di Kab Malang.

D. Membaca Perda Kab Malang

Dalam Perda Kab Malang Nomor 7 tahun 2009 pasal 22 Bab VIII tentang Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal ayat 3 disebutkan bahwa Penyelenggaraan pendidikan non formal yang dilakukan oleh masyarakat, organisasi, dan yayasan yang berbadan hukum dilaksanakan oleh lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), pondok pesantren, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan sejenis. Dalam peraturan yang sama juga disebutkan dalam pasal 28 ayat 4 tentang tujuan penyelenggaraan pendidikan berbasis keunggulan local adalah untuk mengakomodasi peserta didik dalam upaya mengembangkan potensi, ekonomi, social, dan budaya masyarakat daerah setempat.

Pada bagian kelima tentang Peran Pemda pasal 32 ayat (1) Pemda menyelenggarakan sekurang-kurangnya lima satuan pendidikan bertaraf internasional dan yang berbasis keunggulan lokal semua jenjang dan jenis pendidikan secara bertahap sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, (3) Pemda berkewajiban memberikan pembinaan dan bantuan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
Menindaklanjuti hasil rapat dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, komisi C Rabu 4/02/2015 melaksanakan Kunjungan Kerja dan Hearing ke kantor Kemenag Kabupaten Malang, adapun tujuan kegiatan itu adalah untuk mempertanyakan Anggaran APBD yang disalurkan melalui Dinas Pendidikan untuk Tunjangan Keagamaan khususnya untuk BOSDA Madin. Wakil ketua komisi C SutrisnoMurdi SH, menuturkan bahwa, Dinas Pendidikan dalam rapat penyusunan APBD tahun anggaran 2015 telah mengajukan kenaikan anggaran sebesar 11 M salah satunya digunakan untuk tunjangan keagamaan, “Selaku pengawas anggaran kami akan klarifikasi apakah anggaran tersebut telah disalurkan sesuai dengan peruntukkannya, selain itu kami juga minta masukan dari pengguna anggaran terkait anggaran mana yang perlu ditambah ataupun dikurangi. Ditambahkannya bahwa pihaknya mendukung sepenuhnya adanya kenaikan kesejahteraan dan intensif untuk guru khususnya guru agama baik di bawah kemenag maupun dibawah naungan Dinas.
Dari data tersebut secara implisit bisa disimpulkan bahwa monitoring evaluasi masih belum menjadi satu system yang secara pereodik semestinya harus dilaksanakan. Kunjungan kerja hanyalah salah satu instrument penguatan monitoring evaluasi akan tetapi semestinya ada unit khusus yang menjamin pelaksanaan penguatan pendidikan karakter tersebut.

E. Membaca Realitas lembaga Pendidikan di kabupaten Malang

Penguatan pendidikan karakter yang segera dikembangkan harus melalui pendidikan formal ataupun non formal, salah satunya adalah sekolah dan madrasah bahkan pondok pesantren sesuai dengan amanat dari peraturan daerah. Sebelumnya mungkin kita mulai analisis bagaimana kondisi lembaga pendidikan formal maupun non formal, terutama kondisi secara umum lembaga pendidikan keagamaan beserta perangkatnya yang menjadi instrumen dasar dalam penguatan pendidikan karakter di kabupaten Malang.
Jumlah sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di kabupaten Malang adalah 1.505 yang terdiri dari sekolah negeri 1.103 dan swasta 402. Sedangkan satuan pendidikan menengah pertama berjumlah 521 yang terdiri dari negeri 104 dan swasta 417. Sedangkan satuan pendidikan menengah atas berjumlah 139 terdiri dari 16 negeri dan 123 swasta dan akhirnya SMK berjumlah 133 yang terdiri dari 8 negeri dan 125 swasta. Jadi ada tren semakin menuju satuan pendidikan yang lebih tinggi ada kecenderungan mengalami penurunan. Menurut data yang disampaikan Bupati Malang Rendra Kresna kepada Metrotvnews bahwa Kabupaten Malang, Jawa Timur kekurangan tenaga pendidik untuk mapel PAI di tingkat SD. Hal itu dikuatkan juga oleh Kepala Seksi PAI Sekolah (PAIS) Kementerian Agama Kabupaten Malang M Arifin mengatakan, sebanyak 480 posisi guru PAI kosong karena banyak guru PAI pensiun di waktu bersamaan, data dari Dinas Pendidikan (Disdik) tahun 2015, kekurangan guru ASN di Kab Malang mencapai 3.526. sedangkan di Kab Malang ada 1.447 sekolah negeri, dengan rincian 1.116 SD, 311 SMP, 13 SMA dan delapan SMK. Sementara, jumlah guru tidak tetap (GTT) mencapai 2.900 orang.
Menurut Kepala Kantor Kemenag Kab Malang, Drs As’adul Anam, M.Ag menjelaskan bahwa keberadaan guru agama sangat dibutuhkan bahkan sesuai dengan data Dinas Pendidikan Kab Malang masih kekurangan guru agama, jumlah total guru yang berada di lingkup Kementerian Agama Kabupaten Malang adalah sejumlah 7696 orang, selain itu masih banyak guru madin dan TPQ yang belum terdata secara valid, “Pendidikan Agama merupakan hak peserta didik untuk mendapatkan terutama untuk membentuk mental dan kepribadian peserta didik, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” jelas mantan kasi TU di kantor Kemenag tersebut. Selain itu Kasi madin dan Pondok Pesantren Dr Ali Nazi menambahkan bahwa jumlah guru ngaji sesuai dengan data dari KUA dan persatuan TPQ di tiap kecamatan adalah sebesar kurang lebih 13 ribu orang, sementara yang masih ada mendapatkan intensif 250 ribu pertahun dari Bintal Kabupaten Malang sejumlah kurang lebih 9 ribu orang saja, oleh sebab itu pihaknya selalu mengupdate data karena selalu berubah tiap tahunnya.

Sedangkan jumlah pendidikan non formal di Kab Malang seperti kursus sejumlah 78, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) sejumlah 62 dan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) sejumlah 1 jadi total keseluruhan adalah 141 dan hampir semua pendidikan non formal tersebut dikelola swasta hanya SKB saja yang dikelola negeri. Selain itu juga ada jenis pendidikan non formal seperti madrasah diniyah dan pondok pesantren. Nampaknya pengembangan pendidikan non formal masih belum dilakukan penataan secara sistematis, karenanya dibutuhkan penguatan seperti standarisasi pendidikan karakter non formal.
Dari aspek manajemen mutu memang rasio guru dan siswa harus dipenuhi yaitu sekitar 1 : 30, karenanya memenuhi kuota guru agama di sekolah dan madrasah formal harus dilakukan secara terencana dan terukur sesuai dengan kapasitas dana yang dialokasikan. Selain itu juga pendataan yang baik dari realitas guru agama harus segera dilakukan, diperlukan updating data secara terus menerus dan komprehensif untuk melihat secara pasti eksistensi sekolah dan madrasah sebagai pilar untuk melaksanakan pendidikan karakter.

Mengelola karakter memang berbeda ketimbang mengelola fisik dari lembaga pendidikan, karena karakter berhubungan dengan sikap peserta didik. Mengelola karakter berarti sama dengan mengelola nilai, mengelola nilai berarti sama dengan mengelola budaya, mengelola budaya berarti sama dengan mengelola kesadaran, mengelola kesadaran berarti sama dengan mengelola kebiasaan, mengelola kebiasaan berarti sama dengan mengelola system, mengelola system berarti sama dengan mengelola aturan. Untuk menghasilkan aturan yang baik, maka ada beberapa yang harus diperhatikan dalam penyusunannya, salah satunya adalah melibatkan stakeholder yang berkepentingan. Selain itu juga dibutuhkan perencanaan yang baik dan terukur, sehingga bisa dilakukan monitoring dan evaluasi. Karenanya nilai-nilai kekhasan dari Kabupaten Malang harus dilakukan analisis kemudian dijadikan icon kemudian nilai tersebut harus bisa dirumuskan hingga mencapai ukuran indikatornya. Perda yang sudah ada hendaknya diturunkan menjadi ukuran-ukuran ketercapaian sekaligus waktu pencapaian dan biaya yang dibutuhkan.

F. Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari analisis singkat dan sederhana ini, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pendidikan formal dan non formal di Kabupaten Malang masih diperlukan penataan terutama dalam pemenuhan standar pendidikan keagamaan yang menjadi salah satu instrumen penguatan pendidikan karakter di Kabupaten Malang. Salah satunya adalah standar pembelajaran dan SDMnya yang masih kurang memenuhi standar ketercukupan dalam proses pembelajaran. Ketersediaan data base yang masih kurang juga masih menjadi kendala dalam pengembangan penguatan pendidikan karakter di kabupaten Malang. Pengawasan implementasi Perda belum berjalan secara sistematis dan terencana.

Rekomendasi

Dari kesimpulan diatas, maka ada beberapa rekomendasi yang ditawarkan yaitu antara lain :
1) Penguatan pendidikan karakter dibutuhkan sebuah system yang mapan, terencana, terukur dan dapat dilaksanakan, karenanya lembaga pendidikan keagamaan baik formal maupun non formal harus ada standarisasi
2) Penguatan pendidikan karakter diperlukan data base yang baik dan selalu update
3) Diperlukan monitoring evaluasi pendidikan keagamaan di kabupaten Malang yang terencana dan sistematis.

Referensi

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Perda Kabupaten Malang, 2007

Malang dalam angka 2017
Data Referensi data kemendikbud.go.id
Aditya Mahatva Yodha, Metrotvnews.com, Kamis 2 Februari 2017
Dprd.malangkab.go.id. 05-02-2015. 08: 09, kolom berita terkini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Responses to Analisa Pengelolaan Pendidikan Karakter di Kabupaten Malang

  1. ainun nadlif says:

    Upaya yang bagus dan harus diapresiasi. Dikabupatenlain juga perlu pendidikan karakter, karena sdh saatnya melakukan pembenihan manusia berkarakter baik dlm bangsa kita saat ini. negarawan kita selalu terjerat korupsi dll… sedih rasanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar