Pola Integrasi ilmu dan agama UIN Malang

UIN Malang telah diresmikan pada tahun 2004, itu artinya ada sebuah komitmen besar yang harus direalisasikan segera berkaitan dengan cita-cita seorang filsuf pendidikan yang selama ini menjadi poros perubahan STAIN menjadi UIN yaitu Imam Suprayogo. Komitmen besar tersebut adalah terwujudnya penyatuan antara ilmu dengan agama yang selama ini menjadi perdebatan yang dikotomik dalam dimensi pengetahuan.

 Dalam sejarah, munculnya kritik terhadap ilmu pengetahun modern bukan hanya terjadi di dunia Barat, tapi juga di dunia Muslim. Salah satu gerakan yang mengedepankan semenjak diproklamasikannya Kebangkitan Islam abad XV H pada tahun 1970-an adalah Islamisasi ilmu. Gagasan yang dimotori Ismail al-Faruqi dan Sayed Muhammad Naquib al-Attas ini tampaknya mendapat tanggapan yang sangat positif di belahan dunia Muslim.Gerakan-gerakan yang mencoba melakukan kritik terhadap ilmu pengetahuan modern sebagian diantaranya, seperti yang dilakukan oleh al-Faruqi dan al-Attas, adalah gerakan yang dimotivasi agama.

Adanya motivasi agama ini direspon oleh Imam Suprayogo sebagai sebuah gerakan yang wajar mengingat Islam sendiri sangat concern terhadap ilmu pengetahuan.  Allah SWT sendiri akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan, ayat-ayat al-Qur’an sendiri telah banyak mengilustrasikan bagaimana jagad raya dan seisinya ini tercipta. Rasulullah SAW sendiri banyak memberikan anjuran kepada orang Islam untuk mencari ilmu walaupun hingga ke negeri China sekalipun. Nah, jika hal itu sudah termaktub dalam kitab-kitab suci al-Qur’an mengapa orang Islam tidak melakukan komitmen besar tersebut?

Lagi-lagi sejarah kelam telah menghadirkan bayangan-bayangan pesimistis bahwa komitmen besar tersebut dapat direalisasikan, yaitu pada abad ke 16 di belahan bumi Eropa telah ada drama kolosal bagaimana seorang ilmuwan telah mengalahkan otoritas agama. Dia adalah Galileo Galilei yang telah meruntuhkan teori geosentris yang berabad-berabad telah di nash dalam kitab suci gereja dan begitu diyakini sebagian besar masyarakat Nasrani ketika itu. Galileo menyodorkan teori Heliosentris dan memang selanjutnya teori ini mengalahkan otoritas gereja dan dipakai oleh semua masyarakat karena didukung bukti-bukti empiris yang kuat dan tidak terbantahkan. Sejak saat itulah masyarakat Eropa memprogandakan pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama atau lebih kita kenal dengan sekulerisasi.

Nah, pertanyaan besar mampukah umat Islam mengembalikan lagi kesucian otoritas agama? Atau mungkin agama dan ilmu pengetahuan itu memang sejajar. UIN Malang mulai memperdebatkan hal itu hingga terjadi beberapa langkah awal yang masih menuai pro dan kontra di kalangan para ilmuwan UIN Malang . Mantan Pembantu Rektor I Muhaimin dalam salah berbincangannya mengatakan bahwa “tidak usah kita memaksakan agama kedalam ilmu pengetahuan, yang penting internalisasi nilai-nilai Islam saja yang kita masukkan dalam setiap kompetensi mata pelajaran”. Imam Suprayogo sendiri sudah membuat pohon ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadis, beliau mengatakan “meskipun gerakan kita masih sebatas labelisasi ayat-ayat al-Qur’an itu sudah cukup bagus mengingat pahala bagi orang yang mengkaji al-Qur’an itu berlipat ganda daripada tidak menyentuh sama sekali al-Qur’an”. Prof Kasiram sendiri merumuskan bahwa” untuk bisa mengintegrasikan ilmu dan agama, maka yang harus dilakukan adalah menjadikan al-Qur’an sebagai deduksi tertinggi, artinya dari al-Qur’an kita harus membuat proposisi kemudian ditarik sebuah hipotesis untuk ditindaklanjuti dengan penelitian empiris, sampai kita menemukan kebenaran yang ada di al-Qur’an dan sampai mahasiswa tersebut menyebut asma Allah karena dia telah membuktikan kebesaran Allah”.

Dari beberapa komentar tersebut, sebenarnya UIN telah mulai melakukan gerakan-gerakan itu. Pak Muji telah menandatangani SK untuk supaya skripsi mahasiswa harus diarahkan pada integrasi, selain itu juga dalam program penelitian yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian telah menghasilkan beberapa produk yang berupaya menganalisis ayat-ayat al-Qur’an dan hadis (al-Qur’an sebagai deduksi tertinggi), beberapa buku yang diterbitkan oleh UIN juga sudah diterbitkan dengan berbagai wajah dalam bentuk integrasi meskipun masih sebatas labelisasi ayat. Kantor Jaminan Mutu sendiri yang telah memberikan pelatihan calon dosen juga telah menghasilkan produk berupa buku ajar yang integratif yang menuansakan internalisasi nilai-nilai Islam (al-Qur’an) dalam setiap kompetensinya.

Secara garis besar gerakan integrasi ini didasarkan pada falsafah rektor UIN Malang, dengan pohon ilmunya yang berusaha meletakkan al-Qur’an sebagai pondasi utama disamping akal. Bagaimanapun juga sumber dari Tuhan adalah segala-galanya dan merupakan sumber yang paling benar diantara sumber-sumber yang lainnya.

Jika dipelajari secara seksama, sesungguhnya ilmu pengetahuan di dunia ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu ilmu-ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social sciences) dan ilmu-ilmu humaniora (humanities). Ilmu-ilmu alam yang bersifat murni terdiri atas ilmu fisika,ilmu kimia, ilmu biologi dan sementara orang memasukkan lagi ilmu matematika. Ilmu-ilmu sosial yang masuk kategori ilmu murni meliputi ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu psikologi dan ilmu sejarah. Sedangkan ilmu humaniora terdiri atas ilmu filsafat, bahasa dan sastra, serta seni. Ketiga golongan ilmu murni tersebut, yakni ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora, selanjutnya berkembang sedemikian luasnya sehingga bercabang dan beranting sekian banyak. Perkembangan ilmu-ilmu murni (pure sciences) menjadi ilmu-ilmu terapan (applied sciences) yang jumlah cabang dan rantingnya menjadi semakin banyak dan berkembang terus menerus, sejalan dengan perkembangan kemampuan manusia yang tak terbatas

Selanjutnya, masing-masing jenis bidang ilmu tersebut dikembangkan oleh para ilmuwan melalui penelitian ilmiah. Masing-masing jenis ilmu tersebut memiliki metode penelitian dan juga konsep-konsep tersendiri yang berbeda-beda antara satu disiplin dengan disiplin yang lain. Ilmu sosiologi, misalnya karena fokus perhatiannya adalah mempelajari perilaku manusia yang ditimbulkan oleh kegiatan atau interaksi sosialnya, maka muncullah konsep-konsep tentang organisasi, konflik, integrasi, kompetisi, hegemoni, kooptasi, dan lain-lain. Demikian pula ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia yang ditimbulkan oleh faktor internal manusia itu sendiri, maka selain memiliki metodologinya sendiri juga memiliki konsep-konsep yang berbeda dengan disiplin ilmu lain. Tatkala berbicara tentang psikologi, kita mengenal konsep-konsep bakat, minat, motif, kematangan kepribadian dan lain-lain. Selanjutnya, ketika berbicara tentang ilmu sejarah, selalu menekankan pada adanya kategori dilihat dari aspek waktu. Maka, dalam kajian sejarah selalu muncul kategorisasi-kategorisasi atas dasar periodesasi. Demikianlah, selanjutnya yang berlaku pada bidang-bidang ilmu lainnya berkembang dengan metode dan konsep-konsep yang selalu bertambah atau berkembang dari waktu ke waktu yang tidak mengenal henti.

Ilmu-ilmu alam yang terdiri atas fisika, kimia, biologi dan matematika melahirkan ilmu-ilmu terapan seperti ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu kelautan, ilmu kedirgantaraan, ilmu geografi, ilmu pertanian, ilmu peternakan, ilmu pertambangan dan seterusnya. Berbagai rantingnya dan seterusnya. Ilmu teknik misalnya, bercabang menjadi ilmu teknik mesin, teknik aristektur, teknik sipil, teknik informatika dan seterusnya. Demikian pula, ilmu kedokteran berkembang dan bercabang menjadi ilmu kedokteran anak, kedokteran gigi, kedokteran penyakit dalam, kedokteran penyakit kulit dan seterusnya.

Ilmu-ilmu sosial, yang terdiri atas ilmu sosiologi, ilmu psikologi, ilmu sejarah dan antropologi berkembang melahirkan ilmu-ilmu terapan misalnya ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu administrasi, ilmu pendidikan, ilmu komunikasi, ilmu kesejahteraan sosial, ilmu manajemen, ilmu perbankan dan seterusnya. Humaniora juga demikian kemudian berkembang menjadi ilmu filsafat, ilmu bahasa dan sastradan seni. Ketiga cabang ilmu tersebut sebagaimana ilmu-ilmu lainnya juga senantiasa tumbuh dan berkembang sebagaimana tumbuh-tumbuhan, berdahan dan beranting. Rantingnya pun juga bercabang yang masing-masing tumbuh tidak mengenal henti ditumbuh-kembangkan oleh para ilmuwan yang tidak mengenal titik henti sebagaimana dikemukakan di atas.

Dikalangan umat Islam sendiri merumuskan jenis ilmu tersendiri yang bersumberkan pada al-Qur’an dan hadis. Beberapa ilmu dimaksud meliputi; ilmu syari’ah, ilmu ushuludin, ilmu tarbiyah, ilmu dakwah dan ilmu adab. Perguruan tinggi Islam juga memberikan pengakuan bahwa bidang-bidang tersebut sebagai ilmu agama Islam. Atas dasar pembidangan ilmu tersebut maka jumlah dan jenis fakultas di lingkungan perguruan tinggi Islam, dalam arti mengkaji ilmu Islam terdiri atas ilmu ushuludin, ilmu tarbiyah, ilmu syari’ah, ilmu dakwah dan ilmu adab

Orang Islam akan memperoleh pengetahuan puncak dengan syarat dia harus banyak membaca tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi ini (tilawah), setelah dia membaca maka seorang muslim harus mensucikan dirinya artinya dia harus menganalisa dengan pikiran jernih, netral (zero mind proces/tazkiyah), setelah itu dia harus mengajarkan pengetahuan yang sudah dia dapatkan (ta’lim), karena belajar yang cepat adalah dengan cara mengajar, karenanya seorang Muslim harus mengamalkan dan mentransfer pengetahuannya kepada masyarakat, jika dia mampu mengajarkan ilmunya dengan istiqamah, maka dia akan mendapatkan pengetahuan hikmah. Pengetahuan inilah pengetahuan yang mempunyai derajat paling tinggi, dari pengetahuan ini Allah akan memberikan manusia pengetahuan yang tidak pernah diajarkan kepada manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar