Lingkaran Pengaruh Manusia (the Circle of Influence)

 

Abdul Malik Karim Amrullah

Teori dasar kepemimpinan menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi seseorang agar mengikuti langkahnya untuk mencapai tujuan tertentu disebut sebagai pemimpin. Untuk memiliki kemampuan mempengaruhi tidaklah mudah, karena kita harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri dulu sebelum bisa mempengaruhi orang lain. Kemampuan mengukur diri sendiri ini sangat ditentukan oleh pengalaman dirinya menghadapi berbagai macam masalah yang dia hadapi dan dia mampu menyelesaikannya dengan baik. Kemampuan menyelesaikan problem bisa dengan kemampuannya untuk mengambil keputusan dan dia berhasil mengatasinya dengan berbagai macam konsekuensi yang dia perhitungkan dampaknya.

Studi kasus misalnya ketika seseorang menjadi staf kantor dan dia tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan unit yang dia bekerja, orang-orang disekelilingnya bahkan pemimpinnya sering marah kepadanya karena tidak sesuai dengan target yang diinginkan. Staf ini tidak putus asa untuk selalu belajar agar bisa memenuhi keinginan orang-orang di sekitarnya, dengan sabarnya dia mempelajari kebiasaan orang-orang di sekelilingnya bahkan semua keinginan pemimpinnya dia selalu menyediakan. Melihat usaha untuk melakukan pendekatan kepada pimpinan selalu dilakukan, orang-orang disekelilingnya melihat perilaku itu sebagai perilaku negatif, karena motivasi menurut mereka adalah “Asal Bapak Senang”.

Staf ini tidak memperdulikan pandangan negatif orang sekelilingnya, karena motivasi dasarnya adalah dia ingin belajar dan berubah dari ketidakbisaan menjadi bisa itu saja. Tak terasa hubungan staf dan pimpinannya semakin dekat karena dia akhirnya mampu memenuhi segala keinginan yang dibutuhkan pimpinannya. Walhasil, beberapa urusan pimpinan yang tidak sempat untuk dilakukan, seringkali dilakukan oleh staf tersebut, bahkan akhirnya pimpinan menempatkan dirinya pada posisi penggantinya bahkan pada hal-hal tertentu untuk pekerjaan luar biasa, maka staf yang sekarang menjadi pengganti pemimpin mampu menyelesaikannya dengan baik. Sementara orang-orang sekitarnya yang semula mencibir dia, sekarang mereka mulai melihat kemampuan staf ini menjadi luar biasa bahkan akhirnya mereka menjadi bawahannya.

Studi kasus ini menarik untuk dikaji bagaimana lingkarang pengaruh seseorang yang semula kecil, karena tidak mampu bekerja sesuai target menjadi lingkaran pengaruh yang sangat besar karena kemampuan dia untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tingkat tinggi. Ada beberapa hal yang patut dicatat pada kasus ini, yang pertama adalah niat atau i’tikad baik pada diri staf itu untuk bisa belajar agar lebih baik, yang kedua adalah kesabaran dan fokus dirinya dalam menghadapi problem mulai dari problem kecil sampai besar, dan dia lakukan dengan segala konsekuensi yang ada, bahkan sampai dia akhirnya bisa memprediksi resiko yang bakal dia hadapi ketika dirinya mengambil keputusan.

Ketiga adalah pengambilan keputusan yang berkali-kali dia lakukan, meskipun dengan membawa kesalahan akhirnya menghantarkan dia menjadi seseorang dengan segudang pengalaman yang selalu tanggap untuk mengambil keputusan. Kecakapan mengambil keputusan inilah sebenarnya kompetensi dasar seseorang yang akan menjadi seorang pemimpin. Dirinya akhirnya memiliki segudang pengalaman dalam mengambil keputusan dari problem kecil sampai besar. Dirinya mulai sadar bahwa segala macam urusan pasti memiliki dampak baik kecil maupun besar. Kemampuan dan pengalamannya ini akhirnya menjadi dirinya dipercaya untuk mengambil keputusan pada lingkaran kerjanya, kemudia lingkaran pengaruhnya semakin membesar di luar lingkaran kerjanya sampai akhirnya lingkaran pengaruhnya semakin membesar, karena pimpinan akhirnya menyerahkan segala urusan kepada dirinya.

Lingkaran pengaruh manusia tergantung pada tiga faktor tersebut diatas yaitu niat baik yang akan menghasilkan komitmennya, kemudian kesabaran dan fokus dalam bekerja yang akan menghasilkan kecakapan dan kompetensinya semakin bagus, dan pengalamannya yang akan menghasilkan kepercayaan, dan akhirnya dirinya memiliki kemampuan kontrol yang bagus, karena pengalamannya itu. Sebaliknya lingkaran pengaruhnya akan hilang ketika tidak ada niat sehingga tidak ada komitmen, selalu berprasangka negatif yang berdampak pada produktivitasnya semakin rendah, jika produktivitas rendah, maka dia tidak memiliki pengalaman, dan jika tidak memiliki pengalaman, maka lingkaran pengaruhnya semakin rendah. Wallahu a’lam bi al-Sawab

Amka, 5 Desember 2018 (27 Rabiul Awal 1440 H)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar