Belajar menahan marah di bulan Ramadhan dan menciptakan suasana Ramadhan di luar bulan Ramadhan

 

 

 

Abdul Malik Karim Amrullah

من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولوشاء ان يمضيه امضاه ملاء الله قلبه يوم القيامة رضا

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ))
“ Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah .”

Sahabatku yang tercinta, tak terasa satu bulan kita menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, semoga semua ibadah kita diterima Allah swt dan kita mnejadi hamba yang bertaqwa sebagaimana tujuan puasa itu sendiri. Hamba bertaqwa menjadi indikator kesuksesan kita menjalani ibadah puasa.

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa ciri hamba yang bertaqwa adalah orang-orang yang menafkahkan harta baik di saat lapang maupun keadaan sempit, kemudian orang yang mampu mengendalikan amarahnya, serta mudah memaafkan orang lain. (al-Imron; 133)

Hadis diatas menarik untuk dikaji lebih dalam, karena ada dua istilah yang berbeda yaitu ghodob dan ghoidz yang berarti marah. Namun ternyata jika dilihat dari artinya, maka ghodob berarti marah yang ditindaklanjuti dengan tindakan sedangkan ghoidz adalah marah akan tetapi tidak dilanjutkan dengan tindakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Alwi bin Abd al-Qadir dalam Ensiklopedinya yang beliau kutip dalam Mu’jam al-Furuq al-Lughowiyah, halaman 130 bahwa :

قال ابن عطيَّة: (الغَيْظ: أصل الغَضَب، وكثيرًا ما يتلازمان، ولذلك فسَّر بعض النَّاس الغَيْظ بالغَضَب، وليس تحرير الأمر كذلك، بل الغَيْظ: فعل النَّفس، لا يظهر على الجوارح. والغَضَبُ: حالٌ لها معه ظهورٌ في الجوارح، وفعلٌ ما ولا بدَّ، ولهذا جاز إسناد الغَضَب إلى الله تعالى، إذ هو عبارة عن أفعاله في المغضوب عليهم، ولا يُسْند إليه تعالى غيظٌ) (1) .
وقال أبو هلال العسكري: (الفَرْق بين الغَيْظ والغَضَب: أنَّ الإنسان يجوز أن يغْتَاظ مِن نفسه، ولا يجوز أن يغضب عليها، وذلك أنَّ الغَضَب: إرادة الضَّرر للمغضوب عليه. ولا يجوز أن يريد الإنسان الضَّرر لنفسه. والغَيْظ يقرب من باب الغمِّ) (2) .
معنى الغَيْظ لغةً:
الغَيْظ: الغَضَب، وقيل: الغَيْظ غَضَبٌ كامنٌ (للعاجز، وقيل: هو أشدُّ من الغَضَب، وقيل: هو سَوْرَته وأوَّله. وغِظْت فلانًا، أَغِيظُه غَيْظًا. وقد غَاظَه، فاغْتَاظ. وغَيَّظه، فتَغَيَّظ، وهو مَغِيظ (4.
وقال الأصفهاني: (الغَيْظ: أشدُّ الغَضَب، وهو الحرارة التي يجدها الإنسان من فَوَرَان دم قلبه) (5)

Jadi bisa disimpulkan bahwa perbedaan antara ghodob dan ghoidz , kalau ghoidz itu bermakna marah yang sangat akan tetapi tidak disertai dengan tindakan seperti memukul atau dengan menghukum dan lain sebagainya, sedangkan ghodob adalah marah yang disertai dengan tindakan seperti menghukum dan lain sebagainya.

Sebelum membahas lebih dalam, maka kita harus tahu apa sebenarnya marah itu. Secara sederhana marah bisa didefinisikan sebagai kondisi mental seseorang yang dihadapkan pada sesuatu yang bisa menghalanginya untuk memenuhi kebutuhan yang ia inginkan .

Menurut Muhammad Utsman Najati, marah adalah emosi alamiah yang akan timbul manakala pemuasan salah satu motif dasar mengalami kendala. Apabila ada kendala yang menghalangi manusia atau hewan untuk meraih tujuan tertentu dalam upaya memuaskan salah satu motif dasarnya, maka ia akan marah, berontak, dan melawan kendala tersebut. Ia juga akan berjuang untuk mengatasi dan menyingkirkan kendala tersebut hingga ia bisa mencapai tujuan dan pemuasan motifnya. (Mushlihin Al-Hafizh; Pengertian Marah menurut Psikologi, http://www.referensimakalah.com/2013/06/)

Dr Mann, seperti dikutip situs Daily Mail edisi 21 Juni 2013, mengatakan bahwa gaya hidup nyaman yang kita rasakan telah menyebabkan kita berharap bahwa segala sesuatu harus sempurna. Jika tidak, kita akan menjadi cepat marah seperti anak-anak. (Tempo,10 Penyebab Amarah Dalam Kehidupan Modern, https://gaya.tempo.co/read/491267/ Rabu; 26 Juni 2013 07:55 WIB)

Sangat menarik untuk dikaji lebih dalam ciri hamba yang bertaqwa diatas terutama pada poin kemampuan mengendalikan amarah. Ada beberapa cara yang diajarkan Rasulullah SAW untuk mengendalikan amarah yaitu antara lain;
(1) membaca taawudz , sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim

اني لأاعلم كلمة لو قالها لذهب عنه ما يجد، لو قال اعوذ بالله من الشيطان الرجيم ذهب عنه مايجد

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.

(2) Diam atau selalu menjaga lisan ““Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

(3) mengambil posisi yang lebih rendah,

اذا غضب احدكم وهو قائم فليجلس فان ذهب عنه الغضب والا فليضطجع

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

(4) Segera berwudhu atau mandi
Dari hadist Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu :

ان الغضب من الشيطان وان الشيطان خلق من النار وانما تطفاء النار بالماء فاذا غضب احدكم فليتوضاء

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu . (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Dari keempat tips tersebut, menarik dikaji tips yang kedua yaitu diam atau untuk selalu menjaga lisan. Tips yang kedua ini Ramadhan punya peran yang sangat penting, karena kita tahu bahwa ketika orang dalam keadaan lapar, maka cenderung orang itu akan mudah marah. Ramadhan sebenarnya melahirkan konsekuensi agar orang itu bisa cepat marah, akan tetapi kita dituntut untuk menahannya selama satu bulan. Itu berarti ramadhan sebagai lembaga pendidikan yang melatih kita untuk menahan marah.

Bulan Ramadhan datang untuk menjawab problematika kemarahan seseorang, karena bagi seseorang yang berpuasa, maka pasti dia akan mulai dengan rasa bahagia untuk menjalaninya, karena dia paham bahwa puasa adalah kesempatan baginya untuk meraih kebaikan semaksimal mungkin. Kemudian bagi orang yang berpuasa pasti ada komitmen (niat) untuk menjalaninya secara bersungguh-sungguh dan ikhlas.

Hal penting lainnya adalah para pelaku puasa akan mempelajari hal-hal yang membatalkan puasa selain makan dan minum agar tidak sia-sia kegembiraan yang ia tanamkan kepada dirinya untuk meraih kebaikan.
Hal-hal yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah berkata bohong, ghibah (membincang kejelekan orang lain), adu domba, dan sumpah palsu. Keempat faktor tersebut diatas sebenarnya perbuatan yang berkonsekuensi untuk menciptakan suasana emosional yang berujung pada kemarahan. Berkata bohong, yaitu membicarakan sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya, misalnya mengedit film atau foto agar menimbulkan kebencian kepada orang lain yang sebenarnya realitasnya tidak seperti itu, sehingga mengakibatkan orang lain marah.

Hal-hal seperti ini selama bulan ramadhan untuk dihindari bagi seorang yang berpuasa agar tidak sia-sia.
Keempat faktor tersebut harus dihindari artinya bagi seorang yang berpuasa hendaknya tidak banyak berbicara jika tidak bermanfaat atau lebih baik diam. Diam sebenarnya kondisi mental seseorang untuk melakukan proses dialog antara realitas eksternal dengan kondisi psikologi di dalam diri seseorang.

Diam akan melahirkan berbagai pertimbangan seseorang untuk melakukan sesuatu, sehingga segala keputusan yang dilahirkan tidak emosional. Diam akan melahirkan kompromi antara kondisi emosional dengan realitas yang ada , sehingga seseorang akan terpaku pada kompromi itu dan bukan pada realitas yang memberikan stimulus dirinya untuk marah.
Selama satu bulan kita diajarkan untuk tidak banyak berbicara yang berefek pada kemarahan, itu artinya ramadhan sebenarnya mengajari kita untuk mengendalikan emosi.

Tips tersebut juga bisa dilaksanakan di luar ramadhan agar kita tidak mudah marah, artinya kita bisa menciptakan suasana ramadhan meskipun bulan ramadhan itu telah meninggalkan kita yaitu dengan melaksanakan kiat-kiat mendidik diri pribadi kita agar menjadi hamba yang bertaqwa.

Semoga bermanfaat, dan semoga nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Allah kepada kita selama bulan ramadhan ini bisa kita laksanakan di luar bulan ramadhan. Akhirnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya manakalah penulis melakukan kesalahan selama ini. Taqabbalallah mina wa minkum siyamana wa siyamakum, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin

29 Ramadhan 1439 H, Amka sekeluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar