“Memahami Asal Usul Manusia Jawa, Mitos atau Realitaskah…?”

Pustakaloka

KOMPAS(None) – Sabtu, 8 Jun 2002 hlm. 026
Penulis: Amrullah, Abdul Malik Karim   Ukuran: 4744   Pengindeks: ftn

Resensi Buku

 

Judul : Paramayoga Ronggowarsito; Mitos Asal Usul Manusia Jawa, Penterjemah: Otto Sukatno CR Penerbit : Bentang Budaya, Cetakan I, Oktober 2001 Tebal : (xiii + 157) halaman.

KEJAWEN dan peradaban yang terbentuk di Jawa merupakan aturan moral yang diterapi unsur-unsur elemen religius. Bagi mistikus, hal ini tercermin dalam “laku”-nya (nglakoni), atau menjalani suatu cara hidup asketis sehingga ia akan sampai pada suatu tahapan keseimbangan antara alam semesta dengan tujuan hidupnya.

Buku ini merupakan karangan pendahulu dari Pustakaraja Purwo, sebuah karya prosa terbesar yang digubah oleh pujangga prolifik R Ng Ronggowarsito. Paramayoga merupakan dongeng tentang asal-usul manusia Jawa dan sejumlah fakta geografis di Nusantara. Sebagai sebuah dongeng tentunya Paramayoga ini bersifat irasional dan mistis.

Bagi masyarakat Jawa, mitos adalah sebuah sistem ide yang digunakan sebagai “cara untuk menjelaskan dunia”. Dari buku ini kita bisa beroleh pemahaman tentang salah satu cara orang Jawa mengidentifikasikan diri serta asal-usulnya, dan juga bagaimana mereka menyikapi budaya lain (Islam dan Hindu dalam hal ini).

Budaya intelektual di tanah Jawa pada masa lalu ternyata sudah boleh dikatakan tinggi, hal itu terbukti banyak karya-karya sastra yang ditulis, meskipun berbentuk tembang (sastra sekar) macapat yang juga ternyata memiliki aturan-aturan baku, yang kalau kita pelajari akan tampak nilai-nilai intelektualitas yang tinggi. Salah satunya adalah karya Ronggowarsito ini.

Ciri lain yang menonjol dari karya-karya itu adalah nilai mistiknya, sehingga membaca karya mereka seakan kita hanya akan mengungkap khazanah mitos yang tidak rasional. Padahal, jika diperhatikan secara saksama banyak dari karya mereka yang mengandung informasi yang meyakinkan. Satu misal, dari buku ini diceritakan info tentang keadaan Yesus Kristus di India, jika kita bandingkan dengan buku al-Masih di Hindustan karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang diterbitkan oleh Jema’at Ahmadiyah Indonesia (1996) terdapat kesejajaran historis.

Menurut hemat penterjemah buku ini, Paramayogya mencerminkan sebuah model dari adanya bentuk sinkritisme yang paling pas dan harmonis antara ajaran teologi Islam-Hindu-Buddha-dan Jawa.

Memang sulit sebenarnya untuk mengindentifikasi bahwa perenungan-perenungan Ronggowarsito ini sebenarnya sebuah mitos atau realitas, selain ada kesamaan-kesamaan yang sudah kami sebutkan di atas, kiranya perlu dicatat bahwa pengalaman mistik adalah tunggal, ada kesamaan yang lestari. Paling tidak orang hanya dapat memahami fakta tersebut menurut pengertian yang lazim, karena fakta pengalaman Ronggowarsito dan aliran-aliran mistik lainnya adalah di bidang kajian psikologi, bukan kajian akademis.

Obyek kajian tersebut, dengan memakai ungkapan-ungkapan yang khusus menurut pengertian kami adalah memungkinkan memotivasi batin seseorang dalam upaya mengembangkan kesadarannya lebih lanjut. Oleh karena itu, ada kesamaan antara mistisisme dan agama untuk menyelaraskan individu dari kelompok dengan nasib kemanusiaan yang diungkapkan dengan pengendalian mental.

Perlu diketahui juga bahwa masyarakat Jawa sangat kental dengan konsep kebeneran (kebetulan). Bagi mereka proses kebeneran ini tidak semata-mata kebetulan, tapi merupakan akibat dari sesuatu yang laten dan pasti. Pada “pertemuan” koordinat-koordinat menghasilkan peristiwa, suatu manifestasi yang bisa dilihat dan yang tidak ditimbulkan oleh sebab tertentu, akan tetapi oleh takdir. Secara laten, ia telah ada di sana sepanjang waktu, ia hanya tinggal muncul, menjadi benar melalui proses koinsidensi dengan kenyataan.

Dari buku ini juga kita akan mendapati perenungan-perenungan Ronggowarsito tentang eksistenti manusia yang pertama atau yang utama yakni kehidupan Nabi Adam. Perenungan-perenungan ini sebenarnya sama jika kita bandingkan dengan perenungan para filosof Yunani seperti; Aristoteles, Plato dsb. Hanya saja bangsa kita- terutama kaum muda seringkali melupakan para filosof yang ada di negeri kita ini, dikarenakan memiliki rasa rendah diri.

Walhasil, bukan mitos materialnya yang hendak kita tangkap dari buku ini, tetapi pesan-pesan moralnya yang kaya dan pelajaran yang dapat kita teladani dari buku ini, sesuai konteks historis kita sekarang dalam menghadapi dunia yang carut marut dan materialistis seperti sekarang…. selanjutnya selamat berkontemplasi, buku ini bukan buku bacaan biasa.

Abdul Malik Karim Amrullah,Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar