Manusia adalah makhluk yang mampu memberikan nama

 

Dunia ilmu pengetahuan telah banyak memberikan definisi tentang manusia, ada yang menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang berfikir (al-Hayawan al-Natiq), ada yang menyebut dengan makhluk sosial (homo sociality), ada yang menyebut dengan homo economicus yaitu makhluk hidup yang mampu bertahan dengan prinsip-prinsip ekonominya dan lain sebagainya. Nah, definisi diatas ternyata definisi yang tidak terbantahkan dan memang tidak dimiliki oleh makhluk hidup yang lain selain manusia.

Coba anda lihat definisi pada judul diatas, manusia adalah makhluk hidup yang mampu memberikan nama. Apakah benar definisi diatas???pertanyaan ini membutuhkan pengujian pada identitas diatas, baik secara koherensi, maupun korespondensi. Sekarang coba kita simbolkan dulu istilah diatas. Misalkan manusia kita beri symbol X, sedangkan makhluk hidup yang mampu memberikan nama adalah Y, sedangkan adalah kita bias simbolkan dengan =. Sehingga pernyataan manusia adalah makhluk hidup yang mampu memberikan nama dengan symbol (X = Y), X merupakan variable identitas yang mendefinisikan, sedangkan Y merupakan variable identitas yang didefinisikan, karena X = Y, maka yang mendefinisikan dengan yang didefinisikan harus memiliki nilai yang sama, sehingga, jika X=Y, maka Y=X. uji pernyataan diatas merupakan uji kebenaran secara koherensi.

Untuk itu, maka coba jika Y kita jadikan pada pernyataan semula yaitu makhluk hidup yang mampu memberikan nama adalah manusia. Dengan pernyataan diatas, maka terjadi dugaan bahwa semua makhluk hidup yang mampu memberikan nama adalah manusia. Sekarang kita mencoba dengan uji korespondensi, yaitu apakah benar selain manusia tidak ada makhluk hidup yang mampu memberikan nama. Coba kita buktikan satu persatu; (1) Hewan, apakah hewan memiliki kemampuan memberikan nama pada obyek tertentu???tentu jawabannya adalah tidak bisa, (2) Tumbuhan, apakah dia mampu juga?maka jawabannya adalah tidak juga, sekarang yang ke (3) Malaikat dan Iblis, dalam ayat al-Qur’an disebutkan bahwa malaikat tidak mampu menyebutkan semua nama yang sudah diajarkan Allah kepadanya, sehingga para malaikat tertunduk kalah dengan Adam.

Khusus dalil nomor tiga ini sebenarnya masih tidak bisa dikategorikan dalil kebenaran korespondensi, karena malaikat dan jin masih bukan menjadi realitas obyektif yang sebenarnya. Mungkin bisa kita kategorikan sebagai dalil Bayani, yaitu kebenaran yang di peroleh dari dalil-dalil al-Qur’an dan al-Hadis, sebagai sumber kebenarannya.. jadi proposisi manusia, malaikat dan jin dibangun berdasarkan pernyataan-pernyataan dalam al-Qur’an dan al-Hadis.

Pernyataan yang terdapat dalam al-Qur’an tersebut sebenarnya tidak serta merta Adam diperintah Allah untuk menyebutkan nama saja, akan tetapi ketika menyebutkan nama sebenarnya bias terjadi ketika Adam mampu membedakan antara satu obyek dengan obyek yang lain itu artinya Adam sebenarnya juga mampu memberikan nama pada obyek yang dia kenal. Sehingga kemampuan inilah yang membuat para malaikat tunduk, hanya saja Iblis tidak mau mengakui kemampuan manusia ini. Jadi secara empiric ternyata juga dibuktikan bahwa selain manusia tidak ada makhluk lain yang dapat memberikan nama pada suatu obyek tertentu. Karenanya definisi diatas sangat kuat dan tidak dapat dibantahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar